Kasehat.Com—Produksi film porno Jepang yang massal, dan sangat dinikmati jutaan pasang mata di dunia, seakan menunjukkan bahwa Jepang adalah Negara dengan tingkat aktifitas seks yang tinggi. Namun tahukah Anda jika penduduk negeri Sakura tersebut justru krisis gauirah seks ?
Begitulah kenyataannya. Diawali survey resmi dari Japan Family Planning Association pada September 2010, disebutkan bahwa pria Jepang berusia 16-19 tahun mengaku tidak tertarik untuk bercinta. Angka itu 19% lebih banyak dari survey yang sama yang pernah dilakukan pada tahun 2008.
“Perbandingan survey di tahun 2008 dan 2010 itu membuktikan pria Jepang sekarang sudah jadi 'herbivora,'” kata pimpinan Japan Family Planning Association, Kunio Kitamura seperti dikutip The Wall Street Journal.
Herbivora itu adalah istilah yang menggambarkan pria muda yang pasif dan kurang ambisius dalam hubungan romantis mereka dengan wanita sebelumnya dari generasi terdahulu.
Survey tersebut bahkan didukung dengan penelitian lain oleh situs kencan online, O-net, yang menyatakan 83% pria Jepang yang menginjak usia 20 tahun tidak sedang berpacaran. Sebanyak 49% dari mereka bahkan tidak pernah punya pacar sama sekali, demikian seperti yang dilaporkan CNNGo.
Gairah seks yang menurun ini pun berdampak pada angka kelahiran Jepang yang kian rendah. Angka kelahiran tersebut khususnya hanya berjumlah 1,2% pada setiap keluarga. Padahal dibutuhkan 2% angka kelahiran untuk pertumbuhan populasi yang stabil.
Sebagaimana dituliskan dalam The Daily Telegraph, populasi warga Jepang pada Maret 2009 mencapai angka 127 juta penduduk. Namun angka itu diprediksi akan menurun sebanyak 95 juta pada tahun 2050 nanti jika warga Jepang semakin kehilangan gairah seks mereka.
Lantas apa sebenarnya yang menyebabkan gairah seks warga Jepang tidak setinggi produksi film porno mereka? Anda tahu?
Keinginan bercinta yang tidak dimiliki warga Jepang diduga karena hal sepele, kelelahan. Banyak sekali penduduk dari negeri Sakura ini yang memilih untuk beristirahat setelah bekerja keras seharian daripada bermesraan dengan pasangan mereka di atas ranjang.
Sulitnya mencari nafkah di Jepang membuat mereka lebih memikirkan tentang bagaimana cara bertahan hidup. Situs Huffington Post menyebutkan, seks pun menjadi pilihan terakhir bagi mereka jika ingin menghabiskan waktu setelah bekerja.
Alasan kedua justru terdengar semakin tidak masuk akal, yaitu teknologi. Adanya internet, sex toys, fasilitas pornografi lainnya membuat warga Jepang menjadi kesulitan untuk menciptakan hubungan romantis yang sesungguhnya dengan lawan jenis mereka. Semakin ironis, tetapi sepertinya alasan tersebut bisa diterima.
Memahami fenomena lunturnya gairah seks warga Jepang, mungkin mereka memang benar-benar butuh bantuan. Ternyata meski diberi sebutan produsen film porno terbesar di Asia, atau bahkan dunia, Jepang tidak bisa menolong diri mereka sendiri dari keringnya libido untuk menikmati kemesraan dalam bercinta. (*)
Sumber: The Wall Street Journal/ The Daily Telegraph/ Huffington Post/ Merdeka /CNNGo
