“Setiap hari Jumat, aku dan para staf rapat untuk menentukan pasien mana yang akan mendapat pembebasan biaya cuci darah. Seperti gladiator di Roma, kami menentukan hidup dan mati pasien. Yang paling banyak mendapatkan suaralah yang akan mendapatkan bantuan. Bila tidak? Dia mungkin akan meninggal karena kehabisan biaya pengobatan.”
Ya, itu lah suara hati yang menggambarkan kegundahan seorang Rully Roesli, dokter ahli ginjal ini begitu prihatin dengan dunia kedokteran di zaman sekarang. Sakit adalah sebuah persoalan mahal, yang kemudian hanya mampu dijawab oleh sebagian orang, kelompok beruang.
Tidak percaya, silakan buktikan di beberapa Rumah Sakit, klinik, apalagi yang berada di daerah dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang masih awam. Bagaimana pelayanannya. Sduahkah mereka memberikan kesamaan pelayanan antara si miskin dan si kaya ? Masih jauh. Ibarat lelang, yang membayar dengan angka tertinggilah yang akan menikmati.
Memang miris, pelayanan kesehatan di Indonesia masih amburadul dan tidak memihak rakyat. Bahkan, kemudian muncul istilah-istilah seperti “Sadikin”, sakit jadi miskin, dan euthanasikon, menyerah pada penyakit karena kondisi keuangan tidak memungkinkan.
Dulu ia bercita-cita menjadi dokter semata dilandasi kepedulian terhadap sesama. Ia tak pernah menyangka bahwa kondisi mengharuskannya terjebak dalam perang batin. Bertindak seolah “Tuhan” dengan menentukan siapa yang bisa mendapatkan subsidi cuci darah dan siapa yang menyerah untuk mati karena tak mendapat bantuan biaya pengobatan gagal ginjal.
Ya, praktik kesehatan kini kembali ke zaman dimana Julius Caesar menguasai setengah tanah Eropa. Memihak kaum bourjuis, yang ditentukan memang lah yang mendapat pelayanan terbaik.
Buku “Playing God” adalah bentuk kekhawatiran Rully Roesli terhadap dunia kesehatan itu. Ia muntahkan semua kegundahan dan kegelisahannya dalam buku tersebut. Betapa mahalnya ongkos kesehatan dan minimnya subsidi untuk itu. (f)
Judul : Playing God
Penulis : Ruly Roesli
Penerbit : Qanita
Cetakan : Februari, 2012
