Obesitas atau sering dikenal dengan kegemukan
merupakan masalah yang terjadi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi
juga negara-negara berkembang seperti Indonesia. Obesitas tidak hanya
mengakibatkan masalah kesehatan berupa penampakan fisik yang “gendut”
tetapi lebih dari itu, penyakit jantung koroner dapat menjadi “bom atom”
yang akan muncul 10-20 tahun setelah terjadi Obesitas. Penyakit Stroke
pun dapat menjadi bom atom dalam jangka waktu yang sama. Setelah bom
atom ini meledak, kualitas hidup akan menurun, sulit untuk beraktivitas
sehari-hari dan bersosialisasi.
Obesitas datang tidak disadari karena pola makan yang banyak mengandung
gula dan karbohidrat seperti nasi putih, makanan dari tepung, seperti
martabak, gorengan, kue-kue; makanan dari tepung aci, makanan ringan
seperti camilan keripik, snack dengan berbagai kemasan produk, minuman
yang mengandung gula, selai roti yang mengandung gula. Kebiasaan
menambah makan karbohidrat akan lebih menambah resiko menjadi gemuk. Di
Indonesia, kebiasaan menambah makan nasi lebih besar dibanding menambah
lauk pauk. Makin bertambah nasi, makin besar pula resiko menjadi
gemuk.
Karbohidrat dan gula diserap tubuh dalam bentuk
‘glukosa’, jika berlebih akan ditumpuk dalam tubuh menjadi bentuk
lemak. Penumpukkan ini utamanya terjadi di perut bagian bawah, di
lengan bagian atas, dan di pipi. Itu yang terlihat jika berdiri di
depan cermin, perut terlihat masih dapat ditarik ke depan, lengan
bagian atas jika ditekuk ke atas, bagian bawahnya bergelambir dan masih
dapat ditarik, dan pipi terlihat chubby berlebih. Semua penumpukkan
ini jika sangat berlebih lama kelamaan akan berkembang menjadi
obesitas. Penumpukan ini juga terjadi di dalam pembuluh darah tubuh,
fokus penumpukan yang menjadi resiko terbesar adalah di lokasi pembuluh
darah Koroner jantung yang akan menyebabkan penyumbatan darah yang
menghidupi jantung, sering disebut penyakit Jantung Koroner. Selain
itu, penumpukan terjadi di lokasi pembuluh darah di otak, yang akan
menyebabkan penyumbatan darah ke otak dan akan mengakibatkan Stroke.
Dalam 10 tahun terakhir, pola makan yang terlalu banyak mengandung gula
dan karbohidrat ini terjadi pada usia dini. Pada umur 3 tahun, karena
kebiasaan makan ini, anak dapat mengalami Obesitas. Jika diimbangi
dengan aktivitas olahraga, Obesitas pada anak akan berkurang, namun
tetap dapat terjadi lagi karena kebiasaan makan gula dan karbohidrat ini
tetap melekat pada anak usia sekolah dasar, 6-12 tahun, ketika anak
sangat sering mengkonsumsi jenis makanan seperti tersebut di atas,
Obesitas akan dapat berkembang lagi sampai 20 tahun kemudian.
Obesitas dapat dicegah saat usia play group, atau sekitar usia 3 tahun
dengan mencontohkan makan sayur dan buah. Di usia ini merupakan ‘golden
period’ anak memulai di beri role model atau contoh perilaku yang baik.
Perilaku makan yang baik dimulai dari lingkungan terdekat anak, yaitu
keluarga. Role model di keluarga di mulai dari orang tua dan saudara
kandungnya yang lebih tua. Kebiasaan makan yang baik, dalam hal ini,
makan protein, sayur dan buah dengan perbandingan yang lebih besar
dibandingkan dengan makan karbohidrat dan gula dapat dicontohkan mulai
dari saat makan bersama. Anak dapat dicontohkan orang tuanya, misalnya,
makan brokoli, saat menggigitnya dengan menunjukkan brokoli itu nikmat
mulai dari saat menggigitnya, dapat dilakukan dengan mata terpejam
saat menikmati enaknya brokoli. Masih banyak contoh sayur lainnya yang
dapat dipraktekkan oleh orang tua agar anak menjadi suka sayur. Sama
halnya juga mencontohkan makan buah-buahan, dan juga protein seperti
daging, putih telur, tahu, dan tempe.
Paham orang tua tentang
anak susah makan sayur dan buah karena kurang minum syrup vitamin
sebagai penambah nafsu makan itu salah. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, anak kurang makan sayur dan buah karena kurang dicontohkan
sejak kecil, bukan karena kurang syrup vitamin. Syrup vitamin itu tidak
alami, dan mengandung gula sebagai pemanis. Sebaik-baiknya vitamin
adalah sayur dan buah-buahan yang mengandung vitamin alami.
Jika merasa terlambat mencontohkan karena anak sudah besar, tidak ada
kata terlambat, anak umur sekolah dasar dan sekolah menengah pertama
sulit makan sayur dan buah, belum terlambat untuk dicontohkan makan
sayur dan buah. Pada usia remaja dan dewasa muda, makin sulit untuk
memulai mencontohkan makan sayur dan buah karena makin besar rasa
penolakan. Untuk periode umur ini, tetap dicontohkan adalah tetap jalan
terbaik. Dalam mencontohkan dapat dilakukan di saat makan di meja makan
atau dapat melantai dan berkeliling makan bersama. Ada meja atau tidak
ada meja makan bukan masalah untuk dapat memberikan contoh makan sayur
dan buah.
Manfaat memberikan contoh ini adalah untuk anak
bahwa kita melindungi anak-anak saat 20 tahun lagi mereka terlindung
dari Obesitas dan resiko penyakit jantung Koroner dan Stroke. Kualitas
hidup dapat berkumpul bersama keluarga sampai panjang usia dimulai dari
keluarga dalam mencontohkan pola makan sayur dan buah pada anak.
(Penulis: Fedri R. Rinawan, dr., MScPH)
